Stres Kerja, Implikasinya pada Program CSR

Salah satu dari sekian banyak permasalahan dikalangan pekerja yang potensi bersiko terhadap gangguan produktifitas berpikir dan bekerja, yang pada akhirnya turut mengganggu perkembangan dan keberlanjutan bisnis adalah stres. Sekarang mari kita bahas apa itu stres, kenapa pekerja mengalami stres dan dampak buruknya, serta bagaimana sebaiknya peran perusahaan, pekerja, dan keluarga dalam mengendalikan stres pekerja, dan meminimalkan dampak buruknya.

Empat Jenis Stres

Stres adalah respons alami tubuh dan pikiran terhadap tekanan atau situasi yang dianggap menantang atau mengancam. Ketika seseorang menghadapi masalah, tantangan, tugas berat dan merasa terancam, tubuh melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol, yang memicu peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan kewaspadaan (fight-or-flight response). Kondisi ini berfungsi untuk mempersiapkan individu menghadapi tantangan, masalah atau ancaman tersebut.

Tidak semua orang mengalami stres yang sama Ada berbagai jenis stres, yaitu stres akut, stres kronis, stres positif (eustress), dan stres negatif (distress). Tidak semua stres berdampak buruk. Tiga stres yang pertama seringkali berdampak buruk bagi kesehatan dan produktifitas pekerja.

  1. Stres akut

Stres akut adalah stres jangka pendek yang muncul sebagai respons langsung terhadap situasi tertentu, seperti menghadapi pengawasan, pemeriksaan, evaluasi, presentasi penting. Gejalanya dapat berupa peningkatan detak jantung, keringat berlebih, perasaan kuatir, atau cemas. Biasanya, stres ini mereda setelah situasi berlalu.

  1. Stres kronis

Stres kronis adalah stres yang berlangsung dalam jangka waktu lama akibat tekanan yang terus-menerus, seperti masalah keuangan, konflik berkepanjangan, atau lingkungan kerja yang tidak kondusif, bahkan toksik. Stres kronis dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental serta produktifitas kerja bila tidak segera ditangani dengan baik.

  1. Eustres

Eustres merupakan stres positif yang memotivasi dan mendorong seseorang untuk mencapai tujuan atau menghadapi tantangan dengan semangat. Contohnya adalah perasaan antusias saat memulai proyek baru, memulai jabatan atau tugas baru atau pindah kerja ketempat yang diprakirakan lebih baik, tetapi harus mengenal teknologi, metode dan lingkungan yang baru, yang menuntut adaptifitas dan agilitas yang tinggi.

  1. Distres

Distres merupakan stres negatif yang muncul ketika seseorang merasa tidak mampu mengatasi tekanan atau tantangan yang dihadapi, sehingga menimbulkan perasaan cemas, frustrasi, atau kewalahan. Bila stres ini berlansung lama maka akan masuk padajenis stres akut yang berdampak buruk serius bagi kesehatan dan produktifitas kerja.

Fakta Stres di Tempat Kerja

Stres kerja adalah fenomena yang tidak asing di dunia bisnis. Setiap individu, baik di tingkat staf maupun eksekutif, berpotensi mengalami stres. Menurut survei Gallup pada tahun 2020, 43% responden di lebih dari 100 negara melaporkan mengalami stres di tempat kerja. Ini merupakan rekor tertinggi, naik dari 38% pada tahun 2019.

Di wilayah Asia Pasifik, persentase pekerja yang mengalami stress kerja melampaui rata-rata global yakni 48%. Tingkat stress kerja di beberapa negara Asia, seperti Malaysia 57%, Hongkong 62%, Singapura 63%, Cina 73%, Indonesia 73%, dan Thailand 75%. (CFO Innovation Asia Staff, 2016). Di Indonesia angka tersebut meningkat sebesar 9% dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 64%.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) kementerian Kesehatan menunjukkan data bahwa persentase stress kerja sebanyak 35% yang diperkirakan berakibat pada 43% hari kerja yang hilang. Bila jam kerja berlebihan dijadikan sebagai salah satu proksi stres pekerja, maka di Indonesia, berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) tahun 2019 dilaporkan 29,0% pekerja bekerja lebih dari 48 jam per minggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa stres kerja merupakan masalah serius di Asia termasuk di Indonesia

Di Inggris permasalahan ini tidak separah di Indonesia. Di Inggris misalnya, data dari Health and Safety Executive (HSE) tahun 2020 menunjukkan sebanyak 828.000 pekerja di Inggris mengalami stres kerja pada periode 2019-2020 dengan prevalensi kejadian 1.579 kasus per 100.000 pekerja atau sekitar 1.6%.


Artikel ini dimuat dalam Majalah CSR Review edisi 2 2025.
Dapatkan artikel lengkapnya hanya di majalah CSR Review.
Klik di sini untuk mendapatkan akses ke majalah CSR Review

SHARE