Bagi banyak orang, pagi hari baru benar-benar dimulai setelah menyeruput secangkir kopi hangat. Aroma khasnya menenangkan, rasanya memberi semangat, dan ritualnya seolah menjadi jeda sebelum menghadapi dunia. Namun, di balik kenikmatan sederhana itu, ada perjalanan panjang yang jarang kita pikirkan—perjalanan kopi yang meninggalkan jejak karbon cukup besar di bumi.

Di tengah meningkatnya krisis iklim global, kopi justru menjadi salah satu komoditas yang paling terdampak. Kenaikan harga biji kopi hijau dalam beberapa waktu terakhir bukan sekadar persoalan pasar, melainkan sinyal bahwa daerah penghasil kopi sedang menghadapi tekanan serius akibat perubahan iklim. Suhu yang kian panas, hujan yang sulit diprediksi, hingga serangan penyakit tanaman mulai mengancam keberlanjutan produksi kopi dunia.

Penelitian terbaru dari Terrascope yang bekerja sama dengan Olam Food Ingredients (ofi) mengungkap fakta penting: sebagian besar emisi karbon kopi terjadi jauh sebelum biji kopi sampai ke tangan konsumen. Riset ini sekaligus menunjukkan bahwa ada banyak peluang nyata untuk menurunkan emisi di sepanjang rantai pasok kopi—mulai dari kebun hingga cangkir.

Sebagai salah satu komoditas pertanian paling banyak diperdagangkan di dunia, kopi—terutama varietas Arabika dan Robusta—sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Bahkan, sejumlah studi memperkirakan bahwa pada tahun 2050, lahan yang cocok untuk budidaya kopi dapat berkurang drastis, hingga hampir 90 persen di beberapa wilayah utama. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya petani yang terdampak, tetapi juga masa depan kopi itu sendiri.

Jejak karbon kopi ternyata tidak berhenti di perkebunan. Proses transportasi, pemanggangan, pengemasan, hingga cara kita menyeduh dan menikmatinya ikut menyumbang emisi. Sebagai gambaran, satu cangkir kopi hitam berukuran 12 ons menghasilkan sekitar 0,258 kg CO₂e. Angka ini melonjak lebih dari tiga kali lipat ketika kopi disajikan sebagai latte, karena produksi susu sapi memiliki intensitas karbon yang sangat tinggi.

Jika dikalkulasikan, kebiasaan minum satu cangkir kopi hitam setiap pagi setara dengan menghasilkan sekitar 94 kg CO₂e per tahun—kurang lebih sama dengan emisi dari pembakaran 11 galon bensin. Angka yang mengejutkan untuk sebuah kebiasaan harian yang terasa sepele.

Jalan Menuju Kopi yang Lebih Berkelanjutan

Sekitar 75 hingga 91 persen emisi karbon kopi berasal dari tahap pra-produksi di perkebunan. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan penggunaan lahan dan deforestasi, ketika hutan dibuka untuk perkebunan kopi dan karbon yang tersimpan dilepaskan ke atmosfer.

Selain itu, penggunaan pupuk nitrogen secara berlebihan juga menyumbang emisi gas rumah kaca, khususnya dinitrogen oksida (N₂O), yang dampaknya terhadap pemanasan global jauh lebih kuat dibanding CO₂. Proses pengolahan basah kopi pun menghasilkan limbah cair kaya bahan organik yang dapat memicu emisi metana jika tidak dikelola dengan baik.

Tak kalah penting, penambahan susu sapi ke dalam kopi terbukti meningkatkan jejak karbon secara signifikan. Produksi susu memerlukan lahan, air, dan menghasilkan metana dalam jumlah besar. Sebagai alternatif, susu nabati seperti oat atau kedelai menawarkan pilihan yang jauh lebih ramah lingkungan.

Kabar baiknya, berbagai strategi dekarbonisasi telah terbukti mampu menurunkan emisi secangkir kopi hingga 45 persen. Pertanian presisi berbasis data dapat mengurangi penggunaan pupuk sekaligus menekan emisi. Pemanfaatan biochar dari limbah pohon kopi membantu memperbaiki kualitas tanah sekaligus menyimpan karbon. Di sisi hilir, penggunaan energi terbarukan untuk pemanggangan dan operasional kafe, serta pengemasan berkelanjutan dan penggunaan cangkir guna ulang, turut menutup siklus emisi kopi.

Tantangan terbesar saat ini adalah implementasi, terutama bagi petani kecil yang menjadi tulang punggung produksi kopi dunia. Dukungan pembiayaan iklim, insentif rantai pasok, dan kebijakan yang berpihak menjadi kunci percepatan transisi ini.

Pada akhirnya, konsumen pun memiliki peran besar. Dengan memilih kopi berkelanjutan dan mendukung merek yang berkomitmen mengurangi jejak karbon, kita ikut menjaga masa depan kopi. Sebab, secangkir kopi yang kita nikmati hari ini seharusnya tidak mengorbankan esok hari bumi.

 

SHARE