Menyambut 100 tahun kemerdekaan, Indonesia mencanangkan visi besar: Indonesia Emas 2045. Visi ini menargetkan Indonesia menjadi negara maju, sejahtera, dan berkelanjutan. Namun, salah satu fondasi utama yang sering terlupakan adalah kesehatan masyarakat, terutama generasi muda.
Menurut Prof. Dr. Ede Surya Darmawan, Guru Besar Universitas Indonesia, peningkatan kualitas manusia Indonesia sangat bergantung pada pembangunan sektor kesehatan yang kuat. Meski indikator kesehatan seperti usia harapan hidup meningkat dan angka kematian menurun, laju kemajuan Indonesia masih kalah cepat dibanding negara-negara tetangga.
Tantangan Kesehatan Kita
Ada beberapa isu mendasar yang perlu ditangani:
- Gaya hidup tidak sehat: meningkatnya konsumsi rokok, makanan tinggi gula-garam-lemak, dan minimnya aktivitas fisik.
- Ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan antara wilayah pusat dan daerah.
- Penyakit tidak menular yang makin meningkat karena perubahan gaya hidup.
- Digitalisasi dan sedentary lifestyle yang mengurangi aktivitas fisik anak muda.
Peran ESG dalam Pembangunan Kesehatan
Prinsip ESG (Environmental, Social, Governance) memberikan pendekatan yang relevan untuk menjawab tantangan-tantangan ini. ESG mendorong:
- Lingkungan yang lebih sehat (Environmental)
- Pemerataan akses layanan kesehatan (Social)
- Tata kelola sektor kesehatan yang transparan dan efisien (Governance)
Reposisi Kesehatan sebagai Pilar Utama
Kang Ede menekankan bahwa kesehatan harus dilihat sebagai tanggung jawab negara, bukan sekadar urusan individu. Negara wajib memastikan setiap warga dapat hidup sehat dan berumur panjang, sebagai syarat mutlak untuk membentuk generasi unggul dan produktif.
Artikel ini dimuat dalam Majalah CSR Review edisi 3 2025.
Dapatkan artikel lengkapnya hanya di majalah CSR Review.
Klik di sini untuk mendapatkan akses ke majalah CSR Review







